Showing posts with label dermatitis atopik. Show all posts
Showing posts with label dermatitis atopik. Show all posts

Saturday, February 6, 2021

Emma & Eczema, Chapter 2 - When Our Life Changed

Sejak kulit Emma mulai merah-merah, kami coba atasi dengan pakai ini itu, pantang ini itu, susu ini itu, namun tidak juga membaik, kondisinya tetap sama. Baca di sini... http://myivfstories.blogspot.com/2021/02/emma-eczema-chapter-1-beginning.html

Fast forward ke bulan Juni 2018, usia Emma 7 bulan. Saat itu sekitar pukul 21.00, saya sedang siap-siap menidurkan Emma, tiba-tiba listrik padam. Kami langsung panik dan cepat-cepat membawa Emma ke mobil supaya bisa pakai AC. Emma harus selalu berada di ruangan dingin. Suhu kurang dingin sedikit saja, kulitnya langsung memerah dan mulai gatal-gatal. Apabila tidak cepat-cepat didinginkan, kulitnya akan makin merah membara dan gatalnya semakin parah. Berikutnya Emma pasti akan gesek-gesek, garuk-garuk, panik, dan menangis meronta-ronta. Di masa-masa itu, mati lampu dan tidak ada mobil di rumah adalah 2 hal paling mengerikan bagi saya.

Tidak lama di mobil, listrik kembali menyala. Saya langsung bawa Emma kembali ke kamar dan menghidupkan AC. Saya gendong Emma sambil berdiri tepat di depan AC supaya dingin, namun ternyata suhu di kamar sudah terlanjur terlalu panas bagi Emma. Dia mulai gelisah, menggeliat-geliat, dan akhirnya menggesekkan mukanya ke baju saya. Hanya 1x...



Hari itu mimpi buruk kami dimulai. Kulit di sekeliling mulut Emma terkelupas, tidak ada yang tersisa. Setiap saat, Emma berusaha menggesekkan wajahnya ke benda apapun yang berada di dekatnya; kasur, baju kami, bahunya sendiri; tangannya juga selalu mencoba menggaruk ke arah muka. Mungkin kulit mukanya terasa pedas, panas, dan perih. Sejak hari itu, Emma tidak bisa lagi digendong dengan posisi biasa, harus menghadap depan dan kedua tangan didekap supaya tidak gesek muka ke bahu atau dada kami dan tidak garuk-garuk.

Saat itu kami sangat kebingungan bagaimana menjaga agar luka-lukanya tidak kena garuk atau gesek, supaya cepat kering dan kulit barunya tumbuh. Karena semakin lama lukanya tetap basah terkelupas, semakin lama juga Emma akan merasa tidak nyaman dan menderita. Kami tidak mungkin bisa selalu siap siaga 24 jam memegangi tangannya. Terpaksa kami membuat "bedong" apa adanya untuk menghalangi tangan Emma agar tidak bisa garuk-garuk ke arah wajah. Kami menggunakan kain bedong dan ikat pinggang. Stres dan tersiksa melihat Emma terikat, tapi saat itu tidak ada pilihan. Seminggu pertama, bedong ini dipakai sepanjang hari. Bahkan kami pernah membawa Emma ke dokter kulit dengan tetap diikat bedong. 


Emma yang saat itu sedang belajar merangkak, hanya berbaring seharian. Bagi yang tahu Emma, pasti tahu bagaimana aktifnya dia. Sejak bayi, semua milestone motorik dicapai Emma lebih dahulu dibanding kembarannya; mengangkat kepala, berguling, duduk, merangkak. Selama seminggu itu, saya dan suami bergantian tidak tidur semalaman menjaga Emma supaya tidak berguling ke posisi miring atau tengkurap, takut lukanya tergesek kena sprei. Setiap dia mau berguling, kami tahan dan kembalikan lagi ke posisi telentang. Yang giliran jaga tidak tidur sama sekali, betul-betul standby nungguin Emma. Biasanya, saya shift pertama, mulai dari menidurkan sampai jam 3 pagi, suami dari jam 3 pagi sampai bangun tidur.

Semakin hari, luka-luka di wajah Emma mulai mengering.

Kira-kira seminggu setelah kejadian wajah Emma tergesek, suatu siang kami memberanikan diri membuka bedongnya dan membiarkan Emma bergerak bebas, setelah sekian lama 24 jam dibedong, hanya berbaring atau digendong/dipangku. Begitu bedongnya dibuka, Emma langsung berguling dari posisi telentang ke posisi tengkurap. Setelah itu, dia mencoba mengangkat badannya ke posisi merangkak, bertumpu pada kedua tangan dan lututnya, tapi lengannya tidak kuat, Emma langsung jatuh tersungkur, wajahnya mencium kasur. Kedua lengan Emma benar-benar kehilangan kekuatan karena terikat lurus 24/7 selama kira-kira 1 minggu. It was one of the most heartbreaking moment for me. But she didn't cry, she didn't fuss, she smiled like this. Even her eyes were smiling.


She just kept trying until her arms regained their strength. She is my little fighter.

Setelah saya ingat-ingat, sebelum kejadian Emma menggesek wajah hingga luka parah, tidur malamnya memang sudah semakin tidak tenang. Sejak lahir, Emma termasuk bayi yang mudah ditidurkan. Dia bisa tertidur sendiri tanpa perlu digendong-gendong, bahkan saat kembarannya nangis jerit-jerit di sampingnya. Tidurnya pun relatif tenang, tidak sering bangun, gelisah, atau nangis-nangis. Namun sejak sekitar bulan Mei-Juni (usia 6-7 bulan) setiap tidur Emma gelisah, sering guling-guling. Untuk menidurkan, saya harus gendong-gendong lama dengan berbagai gaya, diayun sana sini, baru bisa tidur, itupun saat diletakkan kembali gelisah. Baru saya ngerti, saat itu mungkin dia sudah mulai merasa ada yang tidak nyaman atau gatal di kulitnya.

Sejak kejadian wajah Emma luka, selama tidur malam kembarannya kami ungsikan ke kamar sebelah dijaga suster, karena khawatir kalau kembarannya terbangun dan menangis Emma akan ikut terbangun. Kalau terbangun, Emma akan mulai gelisah lagi dan semakin besar risiko dia akan gesek-gesek wajahnya.

Walaupun di saat bangun Emma sudah tidak kami pakaikan bedong, selama tidur bedong tetap harus digunakan karena tangan Emma setiap saat selalu ingin menggaruk wajah. Tidak gampang membuat bedong yang bisa benar-benar menjaga tangan Emma tidak garuk-garuk. Kain bedong yang dipakai saat bayi sudah terlalu kecil. Setelah beberapa lama dipakai, pasti akan longgar dan tangan Emma bisa lepas lagi. Suatu hari, kami mencontoh sebuah blog seorang ibu di Malaysia yang anaknya juga eczema, menggunakan headband dan bandana. Bentuknya kira-kira seperti ini :
Semua simpul kami ikat dengan longgar, jadi tidak sakit. But being the determined girl that she is, apparently she tried to pull away all night, that her wrists were tied tighter and tighter. Saat kami buka ikatannya di pagi hari untuk mandi, tangan Emma bengkak besar sekali mulai dari pergelangan sampai ke ujung jari akibat terikat kencang semalaman. Saya ingat saat itu saya sangat ketakutan tangan Emma akan cacat dan tidak bisa kembali normal lagi. Pergelangannya luka cukup dalam, bekasnya masih terlihat sampai sekarang walaupun samar. 
Pagi itu pertama kali saya melihat suami saya menangis. 

Selama proses menunggu kulit di sekitar mulut Emma tumbuh kembali, beberapa hari pertama Emma terpaksa tidak saya kasi makan, hanya minum susu saja, untuk betul-betul menjaga agar luka-luka di sekitar mulutnya cepat kering karena kalau disuapi pasti akan belepotan kotor mengenai daerah sekitar mulut dan setelahnya harus dibersihkan dengan air. Setiap kali basah artinya semakin lama proses pengeringan lukanya.

Sepanjang bulan Juni 2018 itu, selain luka akibat tergesek, ruam-ruam Emma parah sekali. Bukan hanya di wajah, tapi juga di lengan, punggung, perut. 



Garuk-garuk sudah jadi aktivitas alami buat Emma. Setiap saat, tangannya akan mencoba menggaruk wajah, lengan, kaki. Garuknya tidak pelan, tapi keras sekuat tenaga. Yang tergaruk PASTI akan luka. Kami harus mengawasi tangannya setiap saat. Setiap dia mau garuk, kami segera tangkap. We became expert, our reflexes were as fast as lightning 🙄. Saat jaga Emma dan kembarannya sendirian, mata harus selalu tertuju ke Emma, mengikuti setiap gerakan tangannya. Kembarannya terpaksa hanya dilirik dari sudut mata saja, karena Emma benar-benar tidak bisa lepas penjagaan sedikit pun. Garuk artinya luka, luka artinya kemungkinan infeksi. Sebisa mungkin, selalu cari angle di mana bisa mengawasi keduanya, tapi tetap posisi diusahakan paling dekat ke Emma. Setiap memangku Emma, kedua tangan dijaga dalam genggaman tangan. Saat dia mau pegang mainan, saya tetap memegangi tangannya dan ikut pegang apa yang dia pegang. Tidak pernah bisa dilepas sendirian. 

Setiap hari dan setiap saat menegangkan dan melelahkan, terutama secara mental. Mengganti popok Emma tidak bisa lagi dilakukan sendiri, harus ada 1 orang yang memegangi tangannya. Begitu pula dengan memandikan, cebok, mengganti baju, mengolesi krim dll.

Selama bulan Juni, kami tidak keluar rumah sama sekali. Kami bahkan tidak bisa keluar kamar karena di ruang tamu atau ruang keluarga kurang dingin. Kami tidak pernah lagi jalan-jalan seputar komplek atau ke taman jogging, Emma sama sekali tidak bisa kena panas. Kalau mau pindah ruangan, harus dipastikan ruangan yang dituju sudah dingin. Dingin standar Emma berbeda dengan standar normal, harus dingin sekali, sekitar 23 derajat ke bawah.  Kami sampai pasang termometer di dinding kamar supaya selalu aware kalau suhu ruangan kurang dingin.

Suatu kali, di tengah malam Emma tiba-tiba meronta-ronta dan nangis jerit-jerit. Kami coba tenangkan tidak bisa, tetap menjerit-jerit. Akhirnya karena bingung dan panik, kami menyalakan lampu. Ternyata wajah Emma sedang merah membara, kami tidak mengerti kenapa. Lupa idenya dari mana, waktu itu akhirnya kami kompres air es dan dia berangsur jadi lebih tenang. Sejak itu, setiap malam kami selalu sediakan mangkok berisi air dan sapu tangan untuk kompres. Dalam 1 malam, bisa berkali-kali Emma dilap, dikompres, dan diolesi cream kembali. Setiap dia mulai rewel atau gesek-gesek dalam tidur, wajah dan lehernya dilap air dingin.

Akhir Juli 2018, kami memberanikan diri keluar rumah untuk merayakan ulang tahun ayah saya di restoran di salah satu hotel. Itupun beberapa hari sebelumnya, ibu saya survei lapangan secara teliti dan menyeluruh untuk memastikan semua sesuai dengan kebutuhan Emma. It was really like a breeze. Hampir 2 bulan terkurung di rumah, bahkan hanya di kamar. 

Selama di hotel, semua berjalan baik, Emma tenang. Bahkan di sore hari, kami sempat duduk-duduk di pinggir kolam renang karena cuacanya kebetulan cukup adem dan banyak angin. Saat sampai di rumah sekitar jam 7.30 malam, waktu mau dibersihkan dan diganti baju, tiba-tiba muka Emma merah, mulai jerit-jerit, dan meronta mau garuk-garuk. Lagi-lagi kami tidak mengerti kenapa. Entah debu di mobil, atau sisa asap rokok yang menempel di baju supir, no idea.

Di akhir bulan Juli, salah satu ruam di pipi kanan Emma jadi basah (oozing). Kami coba kasi Desitin atas saran seorang teman; ruam basah anaknya berhasil kering pakai itu; lalu ditutup perban. Setiap hampir kering, tergesek lagi dan basa lagi. Kami coba pakai Betadine salep, sempat hampir sembuh lalu kembali lagi. Begitu terus. Di awal Agustus sempat kering, namun persis di sebelahnya muncul yang baru lagi, bahkan lebih lebar. Pertengahan Agustus, spot itu basah lagi bahkan melebar, dan muncul ruam basah baru di pipi kiri.

Friday, July 17, 2020

Plastik alas tempat tidur Emma

Tanggal 5 Juni 2020, tanggal bersejarah. Plastik yang selama in dipakai Emma buat alas tidur (melapisi di atas sprei), bisa dilepas. Plastiknya plastik meteran yg tebal, mirip dengan plastik untuk taplak meja. Buat apa? Supaya kalau Emma gesek-gesek muka dan lehernya selama tidur atau saat terbangun; yang pasti terjadi setiap malam, ga hanya sekali, multiple times; kulitnya nggak luka.

Papanya Emma dapet ide ini dari blog seorang bapak yang juga punya anak eczema. It was amazing to realize that we were not the only one struggling with finding solution to keeping our baby from making new wounds every night. It was THE BEST idea so far, and a life saver.

Sebelum pakai plastik, kami pakai scarf mama saya yang bahannya paling halus, ukurannya panjang jadi cukup untuk menutupi tempat tidur dari ujung ke ujung, lebarnya dari sekitar pinggang sampai ke atas kepala. Karena cuma 1 yang sehalus itu, scarf itu kami pakai cuci kering. Kalau hujan dan malam hari scarf itu belum kering, deg-degan.. Harus dikeringkan dengan hair dryer. Pernah juga mbak lupa nyuci dan baru ingat sore hari. Deg-degan.. Pokoknya, gimana caranya, scarf itu harus dipakai setiap Emma tidur. Ga kebayang tanpa itu. Dengan pakai alas saja, pagi hari mukanya banyak lecet, apalagi lehernya waktu parah-parahnya, setiap bangun tidur basah lagi, basah lagi. Ini sudah kami jagain sebisanya, setiap Emma gesek kami pegangin, usapin area yang gatal, kasi krim, kompres air dingin, etc. Apapun caranya biar nggak gesek-gesek, biar nggak luka. Kami nggak bisa jaga 100% selama dia tidur, karena kami juga butuh tidur.

Sejak pakai plastik, tidur kami lebih tenang. Nggak lagi khawatir ada luka-luka parah baru di pagi hari. Lecet sedikit-sedikit ada. Karena di saat gatal, Emma akan gesek sangat keras dan berulang-ulang, terus menerus. Jadi kalau area yang digesek ada rash yang dalam keadaan basah, atau kulitnya belum tumbuh sempurna, pasti akan kebuka lagi karena gesekan, walaupun sudah di atas plastik.

Saya memberanikan diri buka plastik Emma setelah beberapa kali tidur siang saya perhatikan dia nggak gesek-gesek lagi. Tanpa plastik pasti lebih nyaman, nggak panas. Saya bukan nggak tahu kalau tidur di atas plastik itu panas (seperti mungkin beberapa orang kira ✌). Saya cuma nggak tahu alternatif yang lebih baik buat kondisi yang ada. Menurut saya, plastik dengan segala pros dan consnya, adalah pilihan terbaik selama ini.

Sayangnya waktu buka plastik itu, saya lupa ambil foto tempat tidur Emma saat masih pakai plastik. Bittersweet memory. Bitter karena it wasn't a happy time when we were using it. Sweet karena plastik itu penolong hidup kami dan Emma. 

Waktu ubek-ubek foto di hp, nyari siapatau ada foto plastik tempat tidur Emma, ternyata saya nemuin satu-satunya foto tempat tidur Emma lengkap dengan plastiknya, persis tanggal 5 Juni 2018. But the picture is too heartbreaking to share. I keep it in a separate folder, with many other heartbreaking pictures. It's tough to see. But I need to revisit it from time to time to remind me that it was that bad, but look at where she is right now. Praise the Lord.

Tuesday, May 5, 2020

New clothes for Emma


Looking at this picture of her, it feels like a dream. I have been keeping this dress for quite a while, waiting for the miracle to happen.

In March 2019, she developed a trouble spot at the back of her neck. Some days it disappears, the other days it reappears with a vengeance.
Around April, it spread even farther to her upper back. It was so itchy that she would rub it to anything that comes into contact with it, her clothes, the bedsheet, the wall when she leans againts it; making it weeping and wider. We tried to put bandage on it, to keep it from getting rubbed, especially during sleep, but she always managed to take it off. 

I took the following picture in June 2019. It's still painful for me having to look at these pictures again.

It got more troublesome that we had to cut the neckline of all her clothes, making it wide enough so the fabric doesn't come in touch with the trouble spot unless she would be so irritated. We turned all her clothes into off-shoulders-like. 

Off-shoulders have to be tailored to make it fit around the body and not drooping while worn, and her clothes were not. So all her clothes would drop down, uncovering her skin more than we would like to show. Whenever we go out, people would make comments like "Why isn't she wearing any clothes? Is she hot?" (Literally, orang nanya "Kok telanjang???" padahal jelas-jelas dia pakai baju).

As time went by, she got more used to not being covered around the neck, upper back, and shoulders. Eventhough there were no prominent rashes on her shoulders, she would be so irritated and panicked if her clothes touch them. So we had no choice other than giving her the "off-shoulders". Even tanktops are still uncomfortable and painful for her to wear.

This March, the trouble spot suddenly disappear. She went from this on March 12th, 2020 :
to this on March 26th, 2020 :
At first, she still couldn't tolerate any fabric. I tried to put her on an uncut t-shirt, she panicked and started pulling the neckline wider to uncover her back and shoulders, so I took it off again. The next time I tried, she wore it comfortably for 5 minutes and then started panicking, I took it off again. I forget how many days after that, but I think it was still in the same week, she managed to wear a normal clothes and didn't panic at all.

I have been keeping so many clothes for her in a box. Pretty dresses and t-shirts that I haven't got the heart to cut yet. Everytime I put clothes into that box, I say to myself "There will come a day when she will be able to wear this.", and I pray to God to make it happen someday. And now it's really happening. Praise the Lord!

Friday, April 19, 2019

Life with eczema

Eczema is more than just red skin, rashes,  and itches...

It's many sleepless nights when your child tosses and turns incessantly because she was awoken by the itch and could not go back to sleep
It's hours and hours of crying because your child wants to scratch her skin but could not
It's figuring out ways to keep your child who is no longer a baby swaddled so she doesn't rip off her skin
It's waking up to blood-stained bedsheet, clothes, and mittens
It's cutting out bandages to put on your child's face before going to bed to protect her skin during sleep
And cutting it out again in the middle of the night when your child manages to get out of the swaddle and pull off the bandages
All of this happening while your other child is at the other room, and you pray he doesn't wake up and realized he is all alone
It's keeping your eyes on your child AT ALL TIMES to make sure that you catch her everytime she wants to scratch
It's wrestling with your child when she tries to scratch and you have to use all the strength you have to hold her down
It's leaving your other child unattended when you need 2, even 3 persons to hold your child down to reapply moisturizer on her itchy skin while all she wants to do is scratch the itch away
It's those stare you and your child gets in public places
It's the questions you get from people who can't hold down their curiousity.."What's wrong with her face?", or "Why is her face so red?"
And the insensitive comments like "Oh she's allergic to heat? So what's going to happen when she goes to school in the future?"

Tuesday, September 18, 2018

Nightmare with Eczema

Jam 12 malam, suami bawa Emma yang lagi nangis2 ke kamar bawah, untuk dicoba ditidurkan (lagi). Sebelumnya kami ganti perban karena yang di pipi kanan copot. Waktu saya buka pintu kamar, Morgan ternyata sudah terbangun, dia dalam posisi duduk, mencari2 orang.. :( langsung saya gendong dia, saya cium2..maaf ya Morgan tadi kamu ditinggalin 1 jam sendirian di luar.. (kamar luar maksudnya).

Tadi suami sampai sempat bilang dia mau mati aja. Saking stresnya ngurus Emma. Tadi katanya sudah sempat tidur 3x, tapi terbangun terus. Tadi saya sempat gendong sementara suami istirahat karena pinggangnya sudah sakit banget. Emma meronta2 terus, mau gesek2 mukanya, tangannya juga digaruk2. Pasti badannya panas karena nangis terus. Kalau panas pasti tambah gatal.

Tuhan, sampai kapan ini akan terjadi terus..gimana dengan hidup kami..dengan rencana2 kami..dengan hal2 lain yang harus kami lakukan, kalau tenaga kami terkuras untuk masalah ini setiap hari..? Bantu kami Tuhan, kami sudah tidak kuat..

UPDATE :
Akhirnya Emma baru tidur jam 1 di pangkuan suami, suami tidur sambil duduk sampai jam 02.30, baru Emma bisa direbahin. Jam 4 sempat kebangun & nangis2 lagi. Jam 04.30 baru saya & Morgan bisa masuk kamar.

Thursday, September 13, 2018

Our routine

Rutinitas kami setiap malam selama muka Emma luka2 dan suka terbangun/susah tidur :

- Jam 20.00 mulai bersih2, ganti diapers ganti baju, kasi krim pelembab, krim Atopiclair. Khusus untuk Emma ditambah salep Betadine di luka2/kulit yang basah, lalu pasang perban, kemudian terakhir pasang Tubifast supaya perban2nya tidak mudah copot kalau dia gesek2 mukanya, entah ke baju yang gendong, atau ke kasur. Nggak ketinggalan pasang sarung tangan. Semua proses ini membuat saya merasa seperti ke medan perang setiap malam, semua dilakukan dengan perlawanan dari Emma, meronta, nangis, kayang2, mencoba gesek2 mukanya ke bahu baju, dsb..it's very stressful. Saya melakukannya berdua dengan suami, dibantu mbak ART, dia tugasnya megangin tangan Emma.
- Setelah semua selesai, saya dan Morgan naik ke atas, ke kamar sebelah kamar tidur utama, kami menyebutnya "kamar Suster" karena di situ tempat tidur suster pada saat kami masih menggunakan jasa suster; sementara suami dan Emma di kamar tidur bawah. Saya kasi susu dan menidurkan Morgan di kamar Suster ini. Kenapa nggak langsung di kamar kami? Karena nanti setelah Emma tidur dan dibawa ke kamar kami oleh suami, dia harus dibedong dulu. Dan proses ini hampir selalu bikin dia nangis, bisa sebentar lalu langsung tertidur lagi, bisa lama, bahkan ga jarang akhirnya dia bener2 terbangun. Saat dia bangun, bisa minta main, bisa juga nangis. Kadang dia bisa nangis terus selama 1-2 jam. Mukanya sampai merah. Saya di kamar sebelah stres banget dengerin dia nangis selama itu, khawatir dia kecapean atau bahkan pingsan :(.
- Setelah Emma dibedong dan tidur nyenyak, baru saya dan Morgan bisa masuk ke kamar kami, rata2 jam 11 malam.
- Kalau salah satu ada yang terbangun dan kira2 bakal berisik, kami bawa mereka keluar ke kamar Suster dan menidurkan mereka lagi di situ.

Selama bulan Juli sampai sekarang, tidur Emma sangat sering tidak nyenyak. Dia sering terbangun, nangis2. Atau sama sekali menolak tidur. Pernah satu malam dia baru tidur jam 1, lalu jam 4 dia terbangun lagi, nangis2 lagi sampai jam 6, baru tidur lagi.. :(

Sunday, September 2, 2018

Sampai kapan...

Kadang mikir, sampai kapan Emma bakal garuk2 seperti ini. Saya nggak bisa lepas sedikit pun ngawasin dia. Karena dia bisa garuk2 kapan aja. Stres banget..tegang..Pengen banget main2 sama dia, meluk dia, gendong dia seperti anak biasa. Tanpa rasa takut dia bakal garuk2 atau gosokin mukanya ke baju saya. Tapi nggak bisa.. :( Cuma bisa gendong dia hadap depan, sambil megangin tangannya supaya nggak bisa garuk. Atau hadap saya, tapi sambil pegangin sikunya, dan jauh2in mukanya dari badan saya supaya ga gesek2 :(. Sedih banget. I miss holding her like I used to. I miss my little koala..I miss my Emma yang dulu suka saya gendong2 atau taro di dada. I miss my Emma yang suka nempel2in pipi ke pipi saya..Kapan bisa kaya gitu lagi, Tuhan...?