Showing posts with label overstimulation. Show all posts
Showing posts with label overstimulation. Show all posts

Sunday, August 28, 2016

Pulaaangggg.....!!!

Kami sudah beli tiket pulang ke Jakarta untuk hari Senin, 22 Agustus. Sebenarnya masih ada rasa takut untuk pulang. Saya kebayang kalau tiba-tiba saya makin sesak napas saat penerbangan, atau saya kesakitan, atau hal-hal mengerikan lainnya, siapa yang akan nolongin? Tapi di sisi lain, saya sudah ingin banget pulang ke rumah, sudah bosan...

Hari Minggu malam saya uji coba pergi makan ke food court dekat apartemen. Ini adalah kali pertama saya keluar rumah sejak pulang dari RS. Saya jalan pelan-pelan, walaupun masih agak sesak namun sudah berkurang. Ternyata saya survive jalan ke dan dari food court, jadi saya makin confident untuk pulang ke Jakarta keesokan harinya.

Di bandara, saya menggunakan kursi roda karena masih belum kuat jalan jauh-jauh. Puji Tuhan, penerbangan lancar walaupun saat terbang saya sempat serba salah dengan posisi duduk, perut dan pinggang kanan saya sakittt sekali, akhirnya saya minum Tramadol. Jam 8 malam keluar dari bandara dengan selamat, it's good to be back in Jakarta. Terima kasih Tuhannn...

Selama tanggal 23-27 Agustus, perut saya berangsur-angsur mengecil. Hari Minggu, 28 Agustus saya mens dan hari ini lah gejala OHSS benar-benar sudah menghilang, ukuran perut akhirnya kembali normal, phewwww....

Sunday, August 21, 2016

OHSS is really kicking in!

Kamis, 18 Agustus pagi-pagi setelah sarapan saya muntah. Habis itu, saya coba makan lagi, dan muntah lagi huhuhu. Ukuran perut masih konstan, belum mengecil.

Jumat, 19 Agustus pagi dan siang kembali saya muntah-muntah. Berusaha untuk makan tapi susah banget masuknya, padahal perut lapar. Ukuran perut yang saya kira sudah akan mulai mengecil ternyata justru makin membesar, 86/88 cm. Sakitnya nggak usah ditanya.. :(

Saat makan malam, saya merasa semakin sesak dan mata berkunang-kunang. Rasanya mulai panik, dan napas semakin pendek. Akhirnya saya bilang ke suami supaya kami pergi ke UGD saja, karena saya takut kenapa-napa. Suami cepat-cepat selesaikan makannya lalu kami jalan keluar apartemen untuk cari Uber. Saya jalan susah payah karena napas benar-benar sesak dan ukuran perut yang besar bikin kulit dan seluruh perut sakittt.

Sampai di UGD jam 21.00, ramai bangetttt, saya rasanya tambah panik. Namun untungnya saya langsung diwawancara oleh suster yang stand by di counter, mungkin karena dia lihat muka saya pucat banget dan sesak napas. Saat wawancara, untungnya si suster ngerti OHSS. Dia bilang akan cari file saya dulu lalu kemudian menghubungi dr. Ng.

Saya menunggu sampai jam 22.30, kemudian saya dipanggil masuk ke ruangan dan diminta berbaring. Seorang suster mendatangi saya, sambil senyum dia bilang "Pregnant ya?", saya langsung kaget dong. Soalnya saat wawancara awal tadi, saya sudah sampaikan bahwa saya pasien IVF dan baru OPU tanggal 15 Agustus lalu, nggak mungkin dong sekarang saya sudah hamil. Saya jawab ke si suster, ini bukan pregnant, ini bloated, OHSS. Saya sampaikan kembali bahwa saya baru OPU 4 hari yang lalu. Si suster mesem-mesem dan minta maaf.

Nggak lama kemudian dokter dateng, suster yang tadi bilang ke dokter kalo saya tidak hamil. Si dokter kaget banget, "Hah? Not pregnant?". Terus si dokter memanggil seorang suster lagi yang juga ada di dalam ruangan, kemudian ngomong dengan nada complain "She's not pregnant!!". Dokternya kaya kesel gitu. Terus dia bilang kalo gitu nggak usah USG. Setelah itu, baru dia menghadap ke saya dan bilang "Now you need to tell me what you feel!". Heh?? Bukannya dari awal saya sudah sampaikan semua apa yang saya rasakan? Akhirnya saya ulang lagi, saya kasitau kalau saya sesak, perut kembung besar, gejala OHSS. Waktu saya sebut OHSS, dia kaya nggak ngeh, "Ha?", saya ulang lagi "OHSS", si dokter masih nggak ngeh kemudian dia nengok ke suster pertama yang tadi nanya "Pregnant ya?" ke saya. Si suster jelasin ke si dokter, "It's a side effect from IVF's drugs.". Di titik ini saya tambah paniiiiik, saya mikir siapa yang bakal nolongin saya niii, OHSS aja dokternya nggak ngerti huhuhu.

Saya lanjut jelasin lagi ke si dokter kalau dr. Ng nyuruh saya banyak makan protein, tapi karena mual dan kembung jadinya saya nggak bisa makan banyak-banyak. Saya tembak langsung aja "So maybe you can give me some drip to help?". Eh dokternya dengan judesnya nanya balik "What drip?". Saya jawab lagi "Maybe Albumin? I had OHSS once in Jakarta and they gave me Albumin.", padahal sih saya ngarang aja. Saya belum pernah OHSS parah sampai dikasi Albumin, saya cuma baca di internet aja :D. Terus yaa si dokter nanya lagi, "So you want to be admitted to the ward?". Makin lama saya makin bingung, ini di UGD kok kaya di restoran ya, pasien yang ditanya-tanya mau pesen apa  Saya mana tau doook baiknya gimana, saya cuma mau ditolong biar baikannnn, grrrrr. Saya akhirnya bilang mungkin bisa ditanya ke dr. Ng. Dan tau dokternya jawab apa? "Well he's not here..!".

Long story short, akhirnya saya disuruh rawat inap berdasarkan instruksi dr. Ng. Urus administrasi dulu di bagian Admission, dimintai deposit RM 7000 yang sempet bikin jantung berdetak kencang, gilaaa saya kan cuma OHSS, bukan mau laparoskopi, masa depositnya gede bangeeet. Untungnya akhirnya boleh masuk dengan deposit "cuma" RM 4000. Jam 12 malam teng saya masuk ruangan Obstetric & Gynaecology Ward, saya ambil kamar yang berdua. Ternyataaa suami nggak boleh nungguin, yang boleh nungguin cuma perempuan, huhuhuuu. Padahal saya lagi panik-paniknya karena sesak napas. Suami balik ke apartemen dulu untuk ambil beberapa keperluan saya, langsung balik lagi ke RS, terus pulang lagi.

Semalaman saya nggak tidur SAMA SEKALI. Posisi tempat tidur RS malah bikin nggak ada posisi yang cukup nyaman buat saya yang lagi sesak napas dan perut kembung. Kalau terlalu rebah, saya makin sesak. Kalau terlalu tegak, perut saya ketekan jadi makin sakit. Aarrgghhhh..menderita banget. Jam 6 pagi saya udah berdiri di samping jendela, sebentar-sebentar duduk, kemudian berdiri lagi. Mana saya diare, mungkin tiap 15 menit saya geret-geret tiang infus untuk ke kamar mandi.

Pagi-pagi hari Sabtu, 20 Agustus, saya sudah bertekad mau minta pulang aja. Entah kenapa, nginap di RS rasanya malah makin horor, mana nggak bisa istirahat sama sekali. Dari pagi saya sudah bolak-balik nanya ke suster, kapan dr. Ng akan visit. dateng. Asliii saya nggak betah banget di RS, dan ternyata toh saya nggak di-"obati" apa-apa, hanya diinfus obat anti mual dan NaCl untuk menambah cairan, dan dipantau ukuran perut setiap sekian jam. Mungkin memang kondisi OHSS saya nggak separah itu untuk langsung dikasi Albumin (yang notabene harganya cukup mahal). Saking nggak tenangnya, saya sampai email Miss Low untuk minta dia mengingatkan dr. Ng supaya visit wkwkwk.

Jam 11, suami saya minta untuk telpon IVF Center menanyakan kabar embrio, sementara saya ke toilet saking deg-degannya :D. Ternyata katanya embriologis masih sibuk, diminta telpon kembali di atas jam 12. Jam 12 suami telpon lagi, katanya ada 4 blastosis yang di-freeze. Saya sama suami langsung peluk-pelukan terharu, saya sampai nangis..soalnya sebelumnya saya takut banget mikirin gimana kalau tidak ada embrio yang survive sama sekali.

Jam 1 akhirnya dr. Ng dateeeeng. Hal pertama yang dia bilang "I thought you had already gone home" wkwkwk. Saya seger-segerin muka dan bilang kalau kami sudah beli tiket pulang untuk besok, jadi boleh pulang kan yaaa dok? I'll try to drink more. Dia bilang ya ok aja, cuma setelah melihat grafik ukuran perut saya sejak semalam - pagi ini, dia pesan begini :
- But your condition is going to get worse in the next few days. You have to drink lots of fruit juice and soy milk.
- Kalau tambah parah, paru2 kamu bisa terendam cairan, terus harus ditusuk untuk buang cairannya.
- Terus kamu bisa kena DVT, blood clot, you know? So you have to move your legs.
- Kalau di Jakarta tambah parah dan butuh dokter, kamu harus cari dokter yang ngerti OHSS, kalau nggak ngerti nanti dikira perut kamu banyak kista terus langsung dioperasi.
- Jangan urut perut!!
- Istirahat 1-2 bulan baru kemudian FET

Haisshhh...serem-serem amat sih dokkk. Saya sih iya-iya aja padahal di dalam hati jiperrr. Asliii sebenernya takutttt banget. Waktu nungguin suami menyelesaikan pembayaran dan nebus obat, saya di kamar deg-degan parahh. Saya mikir apakah pulang ke apartemen adalah keputusan yang tepat. Bagaimana kalau nanti di apartemen saya justru makin sesak, makin parah seperti kata dr. Ng? Bagaimana kalau saya nanti nggak kuat jalan ke RS, apa suami bisa nolongin saya sendirian? Huhuhuu asli parnooo...cuma saya tetap memberanikan diri untuk pulang karena berpikir di RS nggak bisa istirahat sama sekali, bahkan posisi berbaring pun tidak ada yang cukup nyaman bagi saya.

Jam 3 sore pulang dari RS. Sampai di apartemen, saya bertekad baja untuk lebih banyak minum susu kedelai dan jus seperti pesan dr. Ng. Putih telur juga saya makanin dengan penuh semangat. Bahkan sampai saya blender bersama dengan susu kedelai biar bisa keminum. Hari di mana saya ke UGD, memang saya sudah mulai kendor makan putih telurnya karena sudah bener-bener eneg plus perut yang makin kembung bikin cepat kenyang.

Saya atur mindset saya untuk tidak merasa terganggu dengan sesak napas yang ada. Karena kadang-kadang, rasa takut terhadap sesak napas justru lebih mengganggu dibanding sesak napasnya. Saya ingat-ingat saja masa kecil saya yang sering mengalami asma, sampai semalaman tidak tidur karena tidak bisa berbaring. Saya pikir, dulu saja saya nggak mati kok, apalagi sekarang :D. Asli saya sebenarnya takut mati, takut sesak napas banget sampai nggak bisa napas terus mati, hehehe. Tapi puji Tuhan, sore itu justru saya bisa tidur dengan posisi hampir berbaring normal, sama sekali tidak terganggu rasa sesak napas.

Betul yang dr. Ng bilang kalau "It's gonna get worse", hari ini perut saya mencapai ukuran terbesar, 89/90 cm.

Wednesday, August 17, 2016

2 days post OPU

Hari ini Rabu, jadwalnya ketemu dr. Ng, waktu OPU day dikasitau oleh suster untuk datang jam 16.00. Nyeri-nyeri di perut dan sekitar pinggang akibat OPU sudah tidak terasa, digantikan dengan rasa kembung. Ukuran perut juga mulai membesar. Karena antisipasi OHSS, saya bawa meteran kain dari Jakarta dan begitu pulang dari OPU saya langsung ukur perut, ukurannya saat itu pinggang/perut 77/84 cm. Siang hari ini ukurannya 79/86 cm. Napas terasa mulai sesak, makan jadi nggak kuat banyak. Satu porsi char kway teow untuk makan siang baru habis malam hari, karena setiap kali makan cuma kuat 2-3 sendok.

Sebelum ke klinik dr. Ng, kami ke IVF Center terlebih dahulu untuk tanda tangan kontrak embryo freezing walaupun jumlah embrio yang dibekukan baru akan diketahui tanggal 19 Agustus, 5 hari setelah OPU. Kabar yang kami dapat baru seperti ini :
Dari 20 telur yang di-OPU, 15 di-ICSI, 12 yang terbuahi

Sampai di klinik, suami lapor ke suster kalau saya kurang sehat, kembung dan lemas. Sekitar jam 16.30 ketemu dr.Ng, kembali dijelaskan bahwa untuk kondisi saya, keputusan terbaik adalah menunda ET. Hasil progesteron 2,63, yang artinya rahim saya sudah "terlalu matang", usianya tidak match dengan usia embrio yang akan dimasukkan. Dia cek perut saya, katanya kembung akibat OHSS. Menurut dr. Ng, OHSS ini akan membaik/menghilang di akhir minggu (sekarang hari Rabu). Dia cek lidah saya katanya dehidrasi, katanya harus banyak minum jus buah dan susu kedelai serta makan tinggi protein. Pulangnya diresepin obat anti mual kalau saya merasa mual dan bubuk elektrolit semacam oralit utk diminum 3x sehari. Saat bayar obat, sekaligus juga bayar biaya Embryo Freezing sebesar RM 2.500 untuk kontrak 5 tahun.

Malam hari, ukuran pinggang/perut kembali bertambah besar menjadi 83/87.5. Napas mulai makin sesak, perut semakin ketarik sehingga rasanya sakit banget seperti mau pecah. Jalan jadi nggak bisa tegak, harus menunduk.

Selama OHSS, saya makan 4-5 putih telur sehari, minum susu kedelai 3 botol sehari @250 ml, jus buah 2x sehari @500 ml.

Biaya : RM 2514

Thursday, August 11, 2016

Galau....

Kemarin, setelah pulang dari dokter, saya galau bangettttt. Sampai di apartemen nelpon suami dan nangis, mewek-mewek nggak jelas. Pengen suami cepet-cepet dateng. Saya kepikiran mimik muka dr. Ng yang kayanya concerned dengan kondisi overstimulasi saya, sementara telurnya masih kecil-kecil (menurut saya) dan ukurannya nggak merata. Dokter sih nggak bilang apa-apa, nggak bilang it's a bad thing, nggak bilang juga it's a good thing. Cuma saya parno aja. Takut kalau telurnya sedikit yang mencukupi ukuranya untuk diambil, takut kalau telurnya jelek, takut kalau nanti nggak ada embrio yang jadi, dan berbagai macam ketakutan lainnya yang saya juga nggak bisa jelaskan apa.

Untungnya suami sudah datang hari ini. SOOOO HAPPY!!!!

Wednesday, August 10, 2016

4th visit

Hari ini Rabu 10 Agustus, saya ketemu dr. Ng lagi. Karena agak malas, saya baru berangkat dari apartemen jam 04.55 pagi, malas aja harus jam segini ya hahaha. Dapat nomor antrian 5011. Setelah kembali ke apartemen buat bobok, siangnya lagi-lagi karena malas saya baru sampai di klinik jam 11.20, begitu sampai langsung lapor ke suster dan disuruh tunggu. Jam 11.45 baru dipanggil dan dicek status sisa obat, dikasi nomor antrian 8.

dr. Ng baru datang jam 12.45. Saya baru dipanggil jam 14.05 huhuu...Waktu USG, saya lihat muka dokter kaya gemes-gemes gimana gitu, sambil geleng-geleng dan nyengir-nyengir gajebo. Dia bilang berulang-ulang "many many eggs", "we definitely have to freeze", dan "OHSS", glekkk. Saat dia ukur-ukur telur, saya ngintip-ngintip ke layar. Kayanya banyak yang masih kecil ukurannya, 12mm, 14mm, 16mm. Rasanya belum ada yg 18mm. Dududu...galauuu...Terus dokter bilang, mungkin nggak semua telur nanti bisa diambil.

Saya masih lanjut suntik Gonal-F 3 hari lagi, dosis kembali diturunkan jadi 100-100-75 IU. Setelah selesai dan saya sudah dipersilakan keluar ruangan, saya masih nggak ngeh kapan OPU-nya. Jadi saya tanya (sambil takut-takut dijutekin :P) kapan kira-kira OPU-nya, dokter cuma lihat muka saya tapi belum sempat jawab, terus suster yang jawab "Senin". Ohh..OK...bilang dongg dok :P

Saya tebus obat lalu ke suster. Kali ini pengarahannya banyaak, sampai saya pusing sendiri, mana lupa merekam lagi. Tapi semua instruksi ada dalam bentuk tertulis, jadi kalau ada yang lupa bisa dibaca-baca kembali.

Ringkasan timeline beberapa hari ke depan seperti ini :
Rabu : Gonal 100IU + Suprefact 15
Kamis : Gonal 100IU + Suprefact 15
Jumat : Gonal 100IU + Suprefact 15
Sabtu :
- Pagi : Ke RS untuk cek hormon Progesteron, langsung ke laboratorium dengan membawa surat pengantar dari suster
- Malam : Suntik Pregnyl tepat jam 21.30, tidak boleh lewat. Karena obatnya berbentuk serbuk yang harus dicampur dulu dengan cairannya, saya agak khawatir nervous kalau harus suntik sendiri. Jadi saya putuskan untuk minta disuntikkan di UGD (Accident & Emergency). Suster pesan agar saya datang 30 menit sebelumnya agar ada waktu untuk staf UGD bersiap-siap.
Minggu : Puasa makan dan minum mulai jam 00.00
Senin : OPU day!! Saya harus datang ke bagian Admission jam 7 pagi dengan membawa deposit sebesar RM 6200. Saya akan dibawa ke ruangan, sementara suami harus datang ke Pusat IVF jam 08.30 untuk memberikan sperma.

Yang saya dapat hari ini :
- 1 buah Gonal-F pen 300IU (beserta 1 ice gel)
- 1 kotak Pregnyl 5000IU
- 2 tablet Bisacodyl (obat pencahar)
- Tabung untuk sperma
- Surat pengantar untuk cek Progesteron
- Surat pengantar untuk suntik Pregnyl (surat ini harus dibawa suami ke Pusat IVF pada hari Senin pagi ketika akan mengambil sperma)
- Surat pengantar untuk ke Admission hari Senin pagi

Biaya : RM 518

Saturday, August 6, 2016

3rd visit

Sesuai instruksi dokter di tanggal 28 Juli lalu, saya pergi ke Penang tanggal 5 Agustus karena harus ketemu dokter tanggal 6 Agustus. Saya berangkat sendiri naik Air Asia Jakarta - Penang direct. Kali ini berangkatnya agak mellow, nggak sesantai keberangkatan yang lalu-lalu, karena ngebayangin semingguan bakal sendiri tanpa suami hehehe.

Bawaan juga udah kaya mau pulang kampung. Saya bawa 1 koper yang ukuran paling besar, berat total 17 kg hehehe. Sampai bedcover ukuran besar pun saya bawa setelah tanya-tanya pendapat teman-teman yang sudah pernah program bayi tabung di Penang. Berdasarkan beberapa kali kunjungan yang lalu, saya kurang nyaman tidur hanya dengan selimut kecil dan tipis yang biasanya disediakan di apartemen.

Sabtu pagi saya bangun jam 05.00, jam 05.18 berangkat, jam 05.30 sampai di LWE. Yang antri baru sedikit..

Oh ya, sekalian saya ceritakan routine untuk mendaftar :
- Datang ke lobi LWE (kalau sebelum jam 06.00 masuk lewat pintu Accident & Emergency), antri duduk atau berdiri sesuai kondisi, kalau sudah mulai pada berdiri, ikut berdiri saja. Boleh sambil duduk di lantai kok. Selama saya ke sana, saya belum mengalami ada yang marahin...mungkin saya lagi beruntung.
- Jam 06.30 mesin nomor antrian mulai dinyalakan, biasanya ada pegawai yang mengoperasikan. Jadi kita tinggal bilang saja, pasien baru atau lama. Nanti pegawai tersebut yang akan memencet tombol di mesin dan memberikan nomor antriannya kepada kita.
- Jam 07.00 nomor antrian mulai dipanggil. Nomor antrian pasien lama akan dipanggil di loket no.1 atau 2, di situ kita menyerahkan kartu pasien dan menginformasikan ingin ke dokter siapa. Sementara nomor antrian pasien baru akan dipanggil di loket-loket lainnya, di sana akan dimintai paspor, lalu dipersilakan mengisi data pribadi dan menginformasikan akan ke dokter siapa. Setelah itu petugas akan memberitahu jam berapa kita harus datang ke tempat praktek dokter. Untuk dr. Ng, biasanya kita diinformasikan untuk datang jam 10.00.

Pagi ini saya dapat nomor 5010. Saya sampai di klinik pukul 10.20, lalu saya tanya suster apakah nomor antrian sudah dibagikan, rupanya belum. Namun karena saya lapor, suster langsung memberikan nomor saya (saya dapat nomor 6), mengecek sisa obat di Gonal-F pen saya, dan menanyakan sisa jarum suntik untuk Suprefact lalu mencatat semua di file. Suster bilang datang kembali jam 1 siang. Wah siang juga ya...saya kira karena waktu praktek dr. Ng di hari Sabtu "AM only", bakal selesai cepat...

Saya kembali ke klinik jam 11.30 karena khawatir dokter mulai lebih cepat. Ternyata dr. Ng baru datang jam 13.10 hehehe. Tahu gini tadi bisa tidur lagi lebih panjang hehehe..

Saya baru dipanggil jam 14.00. Hasil USG, dokter sambil nyengir bilang "many eggs", saya tanya "Too many, doc?", katanya "Ya I think we have to reduce your dosage". Terus waktu di meja, dr. Ng ngomong panjaangg...yang intinya nggak usah khawatir, kalaupun overstimulated, nanti bisa tunda ET (embrio di-freeze dulu). Dosis saya diturunkan menjadi 112.5IU untuk 4 hari ke depan, ketemu dokter lagi hari Rabu tanggal 10 Agustus.

Same routine after that : tebus obat, lapor ke suster, tunggu dapat pengarahan, pulang :D

Yang saya dapat hari ini :
- 1 buah Gonal-F pen 300IU (beserta 1 ice gel)
- Tambahan jarum suntik dan alcohol swab untuk Suprefact

Biaya : RM 466